Saturday, October 15, 2011

Sandra dan Tirta



"Satu.... Dua ...Tiga" Sandra berhitung seiring derap langkah Tirta yang berjalan risih didepannya
"Stop doing that!" Bentaknya
"Hihi..." Sandra hanya tertawa renyah
"Kau jalan duluan!" paksanya sambil menunjuk arah didepannya
Sandra menggeleng
"Kau menggaggu sekali sih menghitung langkahku"
"Aku suka berada dibelakangmu dan menghitung langkahmu, lalu mengikutinya. Bukankah itu yang selalu kita lakukan sejak kecil"
"Ayolah San, Seventeen years later, okay!"
Sandra mengerutkan dahinya. Dia terdiam.

"Kesini!" Tirta menarik tangan Sandra dan memaksanya berjalan disampingnya "Berhenti mengikutiku dibelakang dan berhenti menghitung!" perintahnya lalu melanjutkan berjalan sambil menggandeng tangan Sandra.

Satu Dua Tiga .... Sandra masih berujar dalam hati. Menghitung tiap langkah yang mereka lalui bersama. Menghitung tiap jarak punggung Tirta yang menjauh bersama waktu.

Sandra suka mengikuti Tirta dibelakang dan memandang punggung Tirta

***

Kamu tidak akan pernah tahu seberapa jauh aku telah menghitung langkah itu. Dalam kesunyian, dari kejauhan, diantara rasa sayang dan marah, aku tetap menghitung dan berusaha mengikuti punggungmu yang semakin cepat menjauh, semakin merasa risih oleh kehadiranku dan memaksaku berjalan disampingmu.

Sandra mencintai Tirta

***

Jam dinding menunjukan pukul 6 pagi. Geliat lembut merilekskan tubuh Sandra yang terasa seperti triplek karena ketiduran dilantai tehal dingin setelah semalaman mengerjakan tugas laporan praktikum Farmakologi.
"Capeknya..." celetuknya dengan suara pecah khasnya. Dia berdiri sesaat menatap lantai yang berhamburan kertas lalu melompat-lompat sebentar untuk memaksa matanya terbuka. Tidak mempan.
Dia kemudian memutuskan untuk berkompromi dengan air dingin dalam kamar mandi untuk memaksa matanya berhenti menutup.

"Yeaa... Selesai!" Sandra menyusun lembaran-lembaran kertas yang terpisah dan menjilidnya menjadi satu dalam sekejap lalu bersiap pergi kekampus.
Dia memilih baju terbaik yang sudah dia siapkan malam sebelumnya, memakai bedak dan sedikit riasan, lalu minyak wangi kemudian berputar sebentar.
"Perfect!"

"Hay Sandra, cantik sekali hari ini" Indri memujinya
"Terima kasih" jawab Sandra sumringah. Dia lalu berjalan mantap menuju ruang kelas tanpa menunduk sama sekali.

Sandra sudah berubah

"Hay Tirta" sapanya saat melihat Tirta duduk dikursi dekat tangga mengobrol dengan Nandra "Hay Nandra" sambung Sandra.
Langkah kaki Sandra terhenti sejenak "Aku duluan ya" ucapnya lalu memaksa kepalanya berbalik kedepan dan menahan diri agar tidak berbalik.
Sandra akhirnya tidak kuat dan berbalik. Hatinya sesak menatap Tirta yang masih duduk tenang dikursinya. Sandra menangkap ujung mata Tirta yang melirik padanya.
Sandra berharap Tirta bisa melakukan hal yang sama. Berjalan dibelakang melindunginya seperti yang dulu dia lakukan. Tapi tidak akan pernah ada yang bisa melakukan hal yang Sandra bisa lakukan. Hanya Sandra yang bisa lakukan itu.
Sandra berjalan kelantai tiga sambil berusaha untuk tidak bergumam menghitung anak tangga. Langkah kakinya semakin berat tapi dia mencoba berubah.

Tirta baginya adalah segalanya. Sahabat yang berharga. Dan dia harap Tirta juga seperti itu.
Tapi pilihan hidup menjauhkan mereka ....


Saat bertemu denganmu rasanya aku seperti menemukan mata airku maka ketika kehilanganmu rasanya seperti aku tidak akan pernah lagi melihat setetespun air didunia ini

Sandra akan tetap mencintai Tirta

Sandra berbalik sekali lagi dan mendapati Tirta telah menghilang dari balik punggungnya.

Ketika dia berjalan terlalu cepat aku selalu takut aku akan hilang dibalik punggungnya. Ternyata dialah yang menghilang dibalik punggungku. Bukan karena aku tiba-tiba berjalan lebih cepat tapi karena dia memilih berhenti untuk berjalan dan aku tidak.


Kami tidak lagi beriringan.


Tapi Sandra akan tetap mencintai Tirta

No comments:

Post a Comment