Tuesday, October 4, 2011

KISAH SEPASANG SEMUT


Pada suatu hari mereka dipertemukan. Dan dihari lain mereka dipisahkan. Bukan oleh siap-siapa, tapi oleh takdir yang sebelumnya mereka coba lawan.
 
Namanya Ant, dia adalah seekor semut bersayap.
Namanya Ants, dia adalah seekor semut hitam.
Mereka bersama dilubang yang sama. Bersahabat dan mencari gula sambil tertawa. Persahabatan yang membahagiakan meskipun keduanya berbeda.
Pada suatu malam dibawah cahaya bulan yang remang-remang bak lampu neon lima watt yang hidup segan mati tak mau, Ants mendekat pada Ant. Dia tersenyum seperti seorang malaikat yang sangat menyentuh hati.

Ants berbisik pada Ant “Ant, aku sayang padamu. Kamu sahabat yang baik. Aku ingin bersamamu”
Ant tersenyum membalasnya. Kedengarannya sempurna, bagi Ant kalimat itu rasanya seperti sebuah jawaban dari harapan-harapan yang dibuat Ant tiap malam dia berdoa, jawaban dari tiap potong gula yang dia persembahkan untuk Tuhan “Aku juga sayang Ants” jawabnya.
Hening sejenak. Ant merenung sambil mengepakan sayap. Menatap pada sayap tipis rapuh berkilau yang terlihat seperti lembaran permata dibawah sinar rembulan.
“Tapi Ants, kita berbeda. Semakin kau bersamaku maka kau akan semakin jauh dengan kumpulanmu. Kau tidak bisa hidup tanpa kumpulanmu”
“Aku tidak tahu. Aku bingung” jawab Ants polos
“Haruskah aku pergi dari lubang ini agar kau bisa kembali bersama mereka?” Ant mengepakan sayap bersiap terbang pergi.
Ants memalingkan muka “Tidak apa jika Ant mau pergi dari Ants, Ants tau, Ant pasti tertekan berada dilubang kecil ini bersama Ants ketika Ant mampu  terbang mendekati rembulan. Ant boleh pergi, tapi itu akan sangat menyakiti hati Ants” bisiknya
Ant membatalkan kepergiannya “Asalkan Ants senang, Ant akan tetap disini” Ant memeluk punggung Ants penuh sayang “Kita akan tetap bersahabat” bisik Ant lembut.
Rasanya hari demi hari begitu sempurna, Ant dan Ants menjadi dua orang sahabat yang tidak terpisahkan. Ants tidak peduli lagi dengan kumpulannya, dia tak pernah berpikir ingin kembali ketempat seharusnya dia berada, dan Ant tidak peduli dengan sayapnya, dia tidak pernah berpikir untuk pergi jauh selagi dia bisa. Keduanya saling membutuhkan dan mereka menolak menjadi apa yang seharusnya ditakdirkan untuk mereka hanya demi agar mereka bisa bersama. Bagi Ants dan Ant itulah arti persahabatan.
Tapi …..
Ant mendekati Ants yang sedang mengorek sebuah tebu mencari serpihan gula yang masih tersisa, setetes rasa manis diantara tanah-tanah pahit atap mereka “Ants, kau tidak ingin kembali? Kau lihat mereka mencari dan menunggumu. Kembalilah pada mereka selagi kau bisa!”
Ants berbalik sejenak “Tidak bisa Ant, Ants tidak berani tinggalkan Ant disini. Ants tidak mampu. Kalau Ant mau, Ant saja yang pergi tinggalkan Ants lebih dulu” balasnya
Ant mulai menatap punggungnya yang mulus. Dia mengibaskan sayapnya yang telah lama tertutup. Betapa terkejutnya Ant ketika sadar bahwa sayapnya telah terkikis oleh waktu dan kini tinggal setengah. Setengah potong sayap yang bahkan kehilangan kilaunya dibawah cahaya bulan. Ant akhirnya sadar, semakin lama dia berada disamping Ants, dia semakin tidak sanggup untuk pergi meninggalkannya. Sayapnya hancur dengan sendirinya.
“Ants lihat? Ant tidak bisa pergi kemana-mana. Ant akan tetap disamping Ants karena Ant tidak punya sayap lagi untuk pergi. Ant memilih berada disamping Ants biarpun waktu menghancurkan Ant” mata Ant menunjukan kata-katanya amat tulus.
Ants memeluk punggung Ant dengan lembut. Ant merasa lega.
Berminggu-minggu kemudian musim hujan datang. Koloni semut hitam mulai bangun dari aktifitas membosankan mengumpulkan gula mereka dan mereka mulai berkumpul, berbaris dalam satu lubang dan tidur menuju hibernasi singkat untuk mendapatkan sayap.
Seekor semut hitam mendapatkan sayap
Dua ekor semut hitam mendapatkan sayap
Puluhan semut hitam mendapatkan sayap
Ratusan semut hitam mendapatkan sayap
Pada suatu pagi yang cerah Ants bangun dan mendapati punggungnya ditumbuhi sepasang sayap berwarna ungu mengkilap. Sayap terindah yang pernah ada.
Ant tertawa senang. Dia ingat pengalamannya ketika pagi pertama dia sadar telah mendapatkan sayap “Belajarlah terbang!” bisik Ant pada Ants.
“Tidak mau” jawab Ants “Ants tidak mau terbang tinggalkan Ant, Ant mau tetap disini”
“Tapi sayap itu sayang jika tidak dipakai. Paling tidak belajarlah terbang!” bujuk Ant
Ants menurut, dia belajar. Hari pertama, kedua, ketiga, dan seminggu kemudian Ants berubah menjadi penerbang yang mahir. Setiap kali Ants melakukan maneuver dekat wajah Ant, Ant bertepuk tangan “Hebat, dulu aku tidak terbang sehebat itu” teriak Ant.
Ants pun mencoba naik kedaratan, keluar dari lubang untuk sesaat ketika Ant tidur lelap. Dia takut menyakiti hati Ant yang sudah tidak bisa terbang, Namun sebenarnya diam-diam Ant menyadari apa yang dilakukan oleh Ants. Ant pura-pura tidak tahu tapi dimata Ants itu, Ant bisa lihat bahwa Ants rindu koloni semut hitamnya.
Ant merasa senang melihat Ants terbang kesana kemari dan melihat dunia luar tapi jauh didalam hatinya, Ant merasa sedih dan takut, diam-diam dia sering menangis membayangkan hari dimana nanti Ants akan meninggalkannya selamanya. Dia menatap punggungnya lagi, sayap itu telah benar-benar hancur, sirna ditelan waktu.
Dia tidak bisa kemana-mana. Hanya meringkuk dilubang kecil itu ditemani oleh satu-satunya sahabat tercintanya, Ants.
Ants ternyata semakin senang keluar, dia mulai terbang dan mendatangi koloninya. Sesekali dia pulang kelubang kecil di tanah basah dan pahit itu, tapi semakin hari Ants semakin jarang pulang. Hingga pada suatu hari Ants tidak pernah kembali lagi ke lubang itu.
Ant tau hari itu akan datang, hari dimana Ants memilih koloni dimana dia seharusnya berada. Pilihan yang benar. Ants yang telah menjadi semut bersayap memang sudah seharusnya keluar, Ant terdiam menatap cahaya yang menyembul dari lubang kecil itu. Sambil mengikuti iringan awan, Ant melambaikan tangan dan berkata pelan “Dadah Ants ….” Diapun tersenyum lega.
Dia kembali menatap punggungnya. Sayap itu telah kering seperti daun yang mati. Ant tidak akan dan tidak bisa kemana-mana menunggu seseorang menemaninya dilubang itu. Atau berharap Ants akan datang sesekali menjenguknya dan bermain bersama untuk beberapa menit.

Seekor semut yang belum bersayap memang akan merasa kesepian dalam dunia yang sunyi namun pada suatu masa semut itu akan mendapatkan sayapnya untuk terbang, Hanya saja tidak satupun semut yang tahu, apakah semut yang telah mendapatkan sayapnya dan membiarkan waktu merenggutnya akan diberi kesempatan untuk mendapatkan sayap yang kedua kalianya.
Hanya Tuhan yang tahu….

Dear Ants.
Dadah sahabatku, semoga kamu bahagia ya. Aku senang bisa menjadi sahabatmu ketika kau kesepian. Jika nanti kamu kembali menjengukku. Kuharap kamu datang dengan membawa sayap.
From your truly friend
Ant

No comments:

Post a Comment